Teknologi

Maxwell Scott Ajak Warga Waspadai Bahaya AI yang Sudah Nyata

Grafis: Lintas Suara Indonesia / ilustrasi ai
Grafis: Lintas Suara Indonesia / ilustrasi ai

Kiamat AI sebelum 2030 ramai dibahas. Pakar AI asal Amerika Serikat justru mengingatkan bahaya yang sudah terasa: hoaks bencana dan diskriminasi.

Ramalan bahwa kecerdasan buatan (AI) bisa memusnahkan manusia sebelum 2030 sedang ramai diperbincangkan. Maxwell Scott, pakar AI yang bertanggung jawab asal Amerika Serikat, meminta publik menoleh ke masalah yang lebih dekat.

Menurutnya, bahaya AI tidak perlu ditunggu. Ia sudah hadir di layar ponsel kita setiap hari, lewat disinformasi dan keputusan mesin yang bisa merugikan kelompok tertentu.

"Tantangan yang lebih mendesak adalah bahaya AI di dunia nyata yang terjadi hari ini," kata Scott dalam wawancara program spesial Liputan6 yang tayang Rabu (7/10/2026).

Manipulasi Konten Dengan AI

Scott memberi contoh yang terasa akrab bagi warga Indonesia, negeri yang akrab dengan gempa, tsunami, dan letusan gunung api. Di momen genting, satu unggahan palsu bisa menentukan nasib orang.

"Bila Anda membuka media sosial untuk mencari peringatan soal gunung api atau tsunami, lalu melihat konten buatan AI yang bilang Anda aman atau tidak perlu mengungsi, Anda bisa berada dalam bahaya nyata," ujarnya.

Bukan cuma hoaks. Scott menyebut AI juga bisa dipakai untuk mendiskriminasi warga, misalnya dalam penegakan hukum atau saat seseorang mengajukan kredit.

Scott berada di Indonesia untuk pertama kalinya. Ia datang bersama Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk berdiskusi soal AI yang bertanggung jawab dengan perusahaan, masyarakat sipil, dan kampus.

Bagi pengguna sehari-hari ChatGPT, Claude, atau Gemini, Scott punya saran sederhana: perlakukan AI seperti asisten yang masih belajar. Hasil kerjanya tetap harus dicek.

"Anggap sistem ini sebagai asisten, sebagai karyawan junior. Mereka ada untuk membantu Anda, tetapi tidak untuk menggantikan Anda," kata Scott.

Ia tidak percaya AI akan menggantikan manusia sepenuhnya. Sebagian fungsi kerja mungkin tergeser, tetapi hubungan dengan keluarga dan kreativitas manusia, katanya, tidak bisa ditiru mesin.

Scott adalah salah satu pendiri Strat Alliance Global, perusahaan integrator sistem AI. Ia pernah bekerja di Kantor AI Bertanggung Jawab Microsoft dan menjadi diplomat di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Ramalan dari Dalam Industri

Kekhawatiran soal kiamat AI menguat setelah Jacob Coxon, peneliti yang pernah bekerja di Anthropic dan OpenAI, mengundurkan diri pada awal September 2026.

Coxon menulis bahwa para pembuat AI sungguh-sungguh percaya teknologi itu bisa membunuh kita semua pada akhir dekade ini.

Pemimpin riset penyelarasan Anthropic, Evan Hubinger, membenarkan pandangan itu dan menaksir peluangnya lebih dari 10 persen dalam satu dekade.

Geoffrey Hinton, yang dijuluki Bapak AI, menilai angka 10 persen itu masuk akal, seperti dilaporkan Semafor.

Scott melihat ada yang janggal. Peringatan itu datang dari perusahaan yang sama yang menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun AI.

"Ada paradoks mendasar di sana," katanya. Hingga berita ini ditulis, Anthropic dan OpenAI belum memberikan tanggapan atas pernyataan Scott.

Di dalam negeri, aturan main AI masih menunggu. Dua rancangan Peraturan Presiden tentang peta jalan dan etika AI belum juga terbit.

Dirjen Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah pada 3 September 2026 menyebut keduanya tinggal menunggu tanda tangan Presiden.

Bagi Scott, aturan pemerintah hanya separuh jawaban. Separuh lainnya ada pada pengguna dan perusahaan yang mau bertindak bertanggung jawab.

"Anda harus selalu mempertahankan penilaian manusia atas semua pekerjaan yang Anda lakukan dengan sistem dan perangkat AI," ujarnya.

*