Sebuah video yang beredar menyebut kecerdasan buatan (AI) membaca 30.000 pecahan tablet tanah liat Sumeria dan menemukan pola yang, menurut video itu, mengubah cara memandang mitos penciptaan. Tim peneliti di balik klaim tersebut tidak disebutkan, dan klaim itu belum didukung publikasi ilmiah.
Menurut video itu, AI membaca 30.000 pecahan tablet tanah liat Sumeria sekaligus dan menemukan pola yang disebut belum pernah terdeteksi peneliti manusia. Hingga kini, klaim tersebut belum didukung publikasi ilmiah.
Fragmen kecil dan satu kalimat janggal
Video itu bermula dari sebuah pecahan tanah liat bernomor CBS 1386 di museum di Philadelphia. Katalog lama mencatatnya sebagai potongan akuntansi yang rusak.
Tim peneliti disebut memindainya dengan sistem rekonstruksi berbantuan AI. Sistem itu disebut mencocokkan tanda baji yang rusak dengan basis data tanda Sumeria dari periode Babilonia lama, termasuk gaya juru tulis dan sudut goresan.
Menurut video, keaslian fragmen sudah diperiksa lewat pemindaian inframerah, analisis pelapukan permukaan, dan pemeriksaan ahli tulisan paku. Pihak yang melakukan pemeriksaan itu tidak disebutkan.
Tiga kelompok manusia dan siklus keruntuhan
Dari 30.000 fragmen yang disebut disimpan di London, Berlin, dan koleksi pribadi, AI disebut menemukan tiga kategori manusia yang dicatat seperti unit fungsional. Video mengaitkannya dengan epos Atrahasis, yang bercerita tentang dewa junior yang mogok bekerja lalu digantikan manusia.
Video juga menyebut sosok Adapa, manusia yang digambarkan mampu berkembang biak dan berpikir kompleks. Dalam cerita itu, Adapa menolak makanan keabadian karena menuruti peringatan dewa Ea.
Klaim yang paling spekulatif menyangkut angka 3600, yang dalam bahasa Sumeria disebut SAR. Menurut video, angka itu muncul berulang di teks tentang pertanda buruk dan dikaitkan dengan "bintang penyeberangan".
Video menyebut AI menyejajarkan runtuhnya Kekaisaran Akadia sekitar 2200 SM, periode Babilonia lama sekitar 1600 SM, dan zaman perunggu akhir sekitar 1200 SM dalam satu garis waktu. Video menafsirkannya sebagai pola siklus yang disengaja dan menyatakan populasi manusia kini sudah melewati ambang batasnya. Tafsir itu belum diuji oleh pihak independen.
Epik Gilgames memang memuat kisah banjir besar, dan sistem hitung enam puluhan Sumeria masih terpakai pada pembagian jam serta lingkaran. Namun, video tidak menjelaskan hubungan antara data-data itu dan kesimpulan tentang "siklus pemeliharaan".
Menurut video, catatan itu ditulis empat ribu tahun lalu. Sampai ada publikasi dan tanggapan pakar, klaim ini belum dapat diverifikasi dan baru berupa tafsir yang menunggu pembuktian.