Di bawah es Kutub Selatan, sebuah detektor sebesar satu kilometer kubik menangkap partikel hantu dari luar angkasa. Kini penelitinya, Francis Halzen, meraih Nobel Fisika 2026.
Hadiah Nobel Fisika 2026 diberikan kepada Francis Halzen atas kontribusinya pada IceCube Neutrino Observatory dan penemuan neutrino berenergi tinggi dari sumber luar angkasa.
Pengumuman itu diulas dalam video yang diunggah kanal Fajrul Fx di YouTube pada 8 Oktober 2026. Penyajinya menyebut temuan ini sebagai eksperimen yang sangat ambisius.
IceCube adalah detektor di wilayah Kutub Selatan dengan ukuran satu kilometer kubik, terbenam sekitar 1,5 kilometer di bawah permukaan es. Targetnya adalah neutrino, partikel yang kerap dijuluki partikel hantu.
Partikel yang menembus apa saja
Neutrino nyaris tak bermassa, tidak bermuatan listrik, dan melaju mendekati kecepatan cahaya. Karena nyaris tak berinteraksi dengan materi, ia bisa menembus benda padat, tubuh manusia, bahkan Bumi.
Gagasannya lahir sekitar 1930-an. Para ilmuwan mendapati energi setelah peluruhan beta lebih rendah daripada sebelumnya, padahal energi seharusnya tetap. Dari sana muncul dugaan adanya partikel kecil yang membawa selisih energi itu.
Fisikawan Wolfgang Pauli, yang mengusulkan gagasan tersebut, sampai berkata, "I have done a terrible thing. I have postulated a particle that cannot be detected."
Hingga kini neutrino belum bisa dideteksi langsung. Ilmuwan hanya menangkap jejaknya: bila neutrino kebetulan menumbuk inti atom, tumbukan itu menghasilkan cahaya. Peluangnya sangat kecil, sehingga detektor harus raksasa.
Di Jepang, detektor Super-Kamiokande ditempatkan di dalam gunung berupa tangki sekitar 40 meter berisi air murni. Dari triliunan neutrino yang tiba, yang tertangkap dari Matahari hanya puluhan per hari.
Sensor di dalam es Antartika
IceCube memanfaatkan es Antartika yang sangat jernih di kedalaman, karena tekanan tinggi menghilangkan gelembung udara. Es dibor hingga kedalaman 1,5 sampai 2,5 kilometer, sensor dimasukkan, lalu lubang dibekukan kembali.
Halzen disebut sebagai salah satu pionir yang mulai menggagas proyek ini sejak 1980-an, ketika banyak pihak ragu. IceCube mulai beroperasi pada 2011, dan pada 2013 berhasil mendeteksi neutrino dari sumber luar angkasa jauh.
Pada 2017, IceCube menangkap neutrino berenergi tinggi dan mengirim informasinya ke berbagai teleskop. Arah yang dituju menunjukkan sebuah blazar, lubang hitam supermasif yang melontarkan jet energi.
Temuan ini membuka astronomi multipesan. Selama ini manusia mengamati semesta lewat cahaya, dari radio hingga inframerah. Kini neutrino menjadi jalur informasi tambahan dari peristiwa yang sulit dilihat dengan cahaya.
Penghargaan untuk satu nama
Penyaji video menyoroti bahwa penerima kali ini hanya satu orang, padahal biasanya dua atau tiga. IceCube melibatkan banyak ilmuwan, dan menurutnya hal itu sempat menuai kritik.
Ia menyebut Halzen sendiri menegaskan saat ditelepon Komite Nobel bahwa proyek ini kerja kolaborasi. Tokoh penting lain, Buford Price, telah meninggal, sedangkan Nobel hanya diberikan kepada yang masih hidup.
Bagi penyaji, kegigihan membangun detektor di dasar es Kutub Selatan adalah paduan fisika dan rekayasa. Hasilnya, kata dia, "kita bisa membaca semesta".