Di Jakarta, rupiah menutup perdagangan Senin pekan ini dengan posisi yang sudah lama tak terlihat sejak Juni. Bank sentral pun turun tangan.
Di Jakarta, Senin (26/10/2026), nilai tukar rupiah ditutup di Rp18.135 per dolar Amerika Serikat. Posisi itu menjadi yang terlemah sejak awal Juni 2026, menurut laporan Kontan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan bank sentral tetap masuk ke pasar untuk menjaga stabilitas kurs.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terasa sejak pekan lalu. Pada Jumat (23/10/2026), kurs ditutup di Rp18.080 per dolar AS sebelum bergerak makin berat pada awal pekan ini.
Tekanan dari Timur Tengah dan harga minyak
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Harga minyak dunia yang ikut naik juga menambah beban bagi mata uang Garuda.
Ibrahim juga menyinggung kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Dua faktor itu berjalan bersamaan dan membuat pasar lebih waspada.
Sejak pagi, sentimen serupa sudah terlihat. Bisnis.com mencatat rupiah dibuka melemah ke Rp18.084 per dolar AS, dengan kekhawatiran eskalasi konflik yang mendorong harga minyak di atas USD100 per barel.
Sikap Bank Indonesia menjaga pasar
Destry menegaskan BI tidak meninggalkan pasar. Saat ditemui di Jakarta, ia menyebut arah kurs bergantung pada pasokan dan permintaan hari itu.
Dalam ucapannya, Destry mengatakan "Kita tetap ada di pasar." Ia juga menyatakan bank sentral terus memantau pergerakan rupiah.
Langkah itu sejalan dengan kebijakan yang sudah berjalan. Pada 21 Oktober 2026, BI melaporkan rupiah melemah 0,61 persen sepanjang Oktober, dan bank sentral menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
- Penutupan rupiah 26 Oktober 2026: Rp18.135 per dolar AS.
- Penutupan 23 Oktober 2026: Rp18.080 per dolar AS.
- Suku bunga acuan BI: 5,75 persen.
- Aliran modal asing masuk sejak Juni hingga 20 Oktober 2026: USD9,9 miliar.
Faktor dalam negeri dan premi risiko
Data BI menunjukkan kebijakan insentif yang berjalan sejak Juni telah menarik modal asing masuk. Meski begitu, tekanan keluar dari pasar saham belum berhenti sepanjang Oktober.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tekanan kali ini banyak berasal dari dalam negeri. Ia melihat indeks dolar AS justru melemah, tetapi rupiah tetap tertekan.
Menurut laporan tersebut, Yusuf menyebut "premi risiko khusus Indonesia" yang meningkat ikut menekan kurs. Kurs referensi JISDOR BI pada hari yang sama tercatat Rp18.116 per dolar AS.
Pada 20 Oktober 2026, BI sebelumnya mencatat rupiah berada di Rp17.985 per dolar AS. Angka itu menunjukkan laju pelemahan yang cepat dalam beberapa hari terakhir.
Pekan penentu di depan mata
Yusuf memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.080 hingga Rp18.200 pada Selasa (27/10/2026). Ia menyebut level Rp18.200 sebagai batas psikologis yang berdekatan dengan titik terlemah rupiah tahun ini.
Analis lain melihat peluang serupa ditutup pada Rp18.133, dan BI menegaskan siap melakukan intervensi.
Bagi masyarakat, pergerakan kurs ini berdampak pada biaya impor dan harga barang. Pasar kini menunggu langkah berikutnya dari bank sentral, sambil memantau apakah tekanan dari luar negeri dan dal