Lintassuara.id 16/10/2026 - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyatakan pengaduan terkait surat keterangan (suket) penyetaraan ijazah Wakil Presiden Gibran di Bareskrim Polri masih berada dalam tahap penyidikan. Ia menjawab pertanyaan wartawan di sela kunjungannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengaduan itu dilayangkan Ahmad Kozinuddin. Ia mempersoalkan dugaan pemalsuan dokumen yang menjadi syarat pendidikan Gibran saat maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024. Saat ditanya pandangannya, Suyudi tidak merinci. Jawabannya pendek: proses penyidikan masih berjalan, termasuk terhadap dokumen yang dipersoalkan.
Polemik makin panas
Suasana kian memanas setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut pemberitaan sumber, putusan itu menyebut ijazah setara SMA milik Gibran tidak ditemukan. Sejumlah kelompok masyarakat kemudian mendatangi partai politik, meminta mereka berani membentuk hak angket. Sebagian pihak lain mendorong DPR mengajukan hak menyatakan pendapat.
Jokowi menanggapinya dengan mengulang pernyataan lamanya soal operasi politik. Isu ijazah, kata dia, dipakai untuk menjatuhkan reputasinya dan reputasi Gibran. Kini polemik itu disebutnya turut dimanfaatkan pihak lain. "ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi." Sasarannya, menurut Jokowi, bisa reputasi politik dirinya, bisa Gibran, bisa juga keduanya.
Pengadu: hak konstitusional warga
Kubu pengadu menolak tudingan itu. Bagi mereka, mendatangi partai untuk mendesak pemakzulan Gibran dan melaporkan suket ke Bareskrim adalah hak konstitusional warga negara.
Langkah ke DPR, kata mereka, bukan serangan politik. Mereka menyebutnya sebagai cara membuka pintu supaya perkara tidak menjadi bola liar di tengah publik, dan masyarakat mendapat kepastian soal ada tidaknya ijazah setingkat SLTA milik wakil presiden. Pengadu juga menyatakan suket Gibran tidak punya objek yang disetarakan, baik sertifikat, ijazah, maupun diploma. Dalam pernyataan yang sama, mereka menyebut ijazah Jokowi dari UGM diduga palsu.
Isyarat warna dari relawan
Tuduhan adanya serangan politik di balik isu ini sebelumnya juga datang dari relawan Jokowi. Tanpa menyebut nama, relawan tersebut melempar simbol warna sebuah partai. Ia menunjuk pakaian yang dikenakannya hari itu sebagai salah satu petunjuk dan menyerahkan kepada masyarakat untuk menebak sendiri siapa dalangnya.
Jokowi sendiri belum mau menyebut sosok yang dimaksud. Serangan bertubi-tubi soal ijazah, termasuk dorongan pemakzulan Gibran lewat DPR, ia anggap sesuatu yang biasa.