Teknologi

AI Butuh Air Versi Dokter Tifa: Pusat Data hingga Cip

Grafis: Lintas Suara Indonesia / tangkapan layar video YouTube Dokter Tifa
Grafis: Lintas Suara Indonesia / tangkapan layar video YouTube Dokter Tifa

Di balik chatbot yang tampak tak berbobot, ada gedung pusat data yang haus air. Dokter Tifa menyebut kebutuhan itu bisa memicu rebutan air global.

Dokter Tifa, pemilik kanal YouTube Dokter Tifa, menyebut kecerdasan buatan (AI) menyimpan kebutuhan air yang luar biasa besar. Ia menilai hal itu patut dicurigai sebagai salah satu penyebab kekeringan di berbagai tempat.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam video yang diunggah kanal Dokter Tifa di YouTube pada 7 Oktober 2026. Ia menyebut gagasan tersebut sebagai hipotesis yang kini mengemuka di kalangan peneliti dan sedang ia kaji sendiri.

Titik awalnya pengamatan sehari-hari. Di Jakarta, katanya, beberapa danau dan situ mengering sampai dasar, bahkan berubah menjadi lapangan bola anak-anak.

Tiga lapis kebutuhan air

Menurut Dokter Tifa, AI tampak digital, padahal ditopang pusat data berupa gedung besar. Ribuan hingga puluhan ribu server dan unit pemroses grafis (GPU) di dalamnya menghasilkan panas, dan air ia sebut sebagai pendingin utamanya.

Lapis kedua adalah listrik. Pusat data menyedot daya besar, sementara sebagian listrik berasal dari pembangkit listrik tenaga air yang memakai waduk. Ia menyebut kebutuhan air AI terjadi secara langsung dan tidak langsung.

Lapis ketiga adalah cip. Pembuatan cip semikonduktor, ujarnya, memerlukan air ultramurni untuk membersihkan wafer dan mengendalikan kontaminasi mikroskopis.

Waduk, petani, dan contoh dari luar negeri

Dokter Tifa mengklaim ada pusat data di dekat Waduk Jatiluhur yang memakai air waduk dalam jumlah besar. Menurutnya, hal itu mengancam hak air petani, padahal waduk itu semula dibangun untuk pertanian.

Ia juga menduga pembangunan banyak bendungan pada era Presiden Joko Widodo berkaitan dengan kebutuhan AI. Dugaan ini ia sampaikan sebagai pembacaan pribadi, tanpa menunjukkan bukti dalam video.

Untuk contoh luar negeri, ia menyebut warga Querétaro, Meksiko, yang pada Juli 2025 melaporkan air mengalir sekitar tiga hari dalam seminggu. Ia mengaitkannya dengan pembangunan banyak pusat data di sana.

Ia juga menyebut pusat data Microsoft di Middenmeer, Belanda, memakai sekitar 84 juta liter air pada 2021. Saat itu, katanya, Belanda sedang menghadapi krisis air.

Ihwal masa depan, Dokter Tifa memperkirakan AI akan berkembang menjadi "pabrik AI" setelah 2026, dengan model dan pelatihan yang lebih besar. Ia menyebut ekspansi robotika, kendaraan otonom, dan layanan kesehatan yang berbasis AI akan menambah beban air.

Ia memperkirakan perebutan air akan menjadi isu global menjelang pertengahan 2027. "Problem geopolitik yang sangat pelik," kata Dokter Tifa dalam videonya.

*