Seorang jenderal purnawirawan berdiri di podium kampus dan menyatakan dirinya pencinta demokrasi. Di Unpad, SBY menyebut demokrasi yang baik selalu lebih unggul daripada sistem politik lain.
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan dirinya mencintai demokrasi, meski berlatar belakang jenderal TNI. Pernyataan itu ia sampaikan dalam orasi ilmiah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.
Orasi tersebut digelar pada Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad, Selasa (13/10)
orasi itu bertajuk "FISIP Unpad untuk Indonesia: Merawat Integritas, Menggerakkan Inovasi, dan Membangun Kolaborasi".
Demokrasi yang Baik di Atas Sistem Lain
SBY mengakui demokrasi bisa terlihat kurang menarik ketika kualitasnya buruk. Karena itu, sebagian orang tergoda pada sistem otoritarian atau semiotoritarian yang dianggap lebih stabil.
Baginya, jalan itu bukan pilihan. "Tapi kalau saya, demokrasi yang baik selalu lebih baik dibandingkan sistem politik manapun," kata SBY di hadapan sivitas akademika.
Ia lalu menyebut tantangan ke depan: membangun demokrasi yang kuat, stabil, berkualitas, dan pas untuk Indonesia. Tidak ada satu model demokrasi yang cocok bagi semua bangsa, ujarnya, dengan perumpamaan kaus satu ukuran.
SBY merinci nilai universal demokrasi: kedaulatan rakyat, konstitusionalisme, saling mengawasi antarlembaga, pemilu bebas dan adil, serta supremasi hukum. Namun, menurut dia, sejarah dan budaya sendiri tetap harus ikut membentuknya.
Negarawan, Persatuan, dan Pancasila
Ihwal para politisi, SBY menilai wajar bila mereka memikirkan pemilu berikutnya. Namun negarawan, katanya, harus menatap masa depan yang jauh dan menaruh negara di atas partai.
Ia juga menyinggung pengalamannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) selama lima tahun. Ia mengaku turun ke Sampit, Poso, Ambon, hingga Maluku Utara untuk meredam konflik horizontal.
Pengalaman itu, kata SBY, memperkuat keyakinannya bahwa persatuan menjadi syarat negara maju. Ia mencontohkan bekas Yugoslavia yang terpecah menjadi tujuh negara kecil.
Selain itu, SBY meminta Pancasila diperlakukan sebagai ideologi yang hidup dan tidak dikultuskan. Pancasila, menurutnya, harus terbukti memberi manfaat agar warga tidak tergoda ideologi lain.
Ia juga memaparkan harapan jangka panjang: Indonesia menjadi ekonomi berkembang pada 2030, lalu bangsa yang kuat dengan demokrasi dan keadilan yang mengakar pada 2045.
Di sela orasi, SBY berkelakar soal unjuk rasa mahasiswa di depan ruang kerja Rektor Unpad. Ia mengaku dulu menghadapi demonstrasi selama 10 tahun masa kepemimpinannya.
"Itulah demokrasi. Itulah suara rakyat. Harus kita dengar," kata SBY menutup candaan itu di hadapan peserta orasi.
*