Nasional

Karhutla Palangka Raya Meluas, 121 Penderita ISPA Tercatat

Karhutla Palangka Raya
Karhutla Palangka Raya

Hingga Sabtu malam, 17 Oktober 2026, api yang membakar hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih belum berhasil dipadamkan. Kualitas udara bertahan di level berbahaya sejak pagi, dan jarak pandang di kota itu sangat minim. Gambut yang terbakar sedalam hingga 5 meter membuat api sulit padam walau hujan turun. Anak-anak dengan riwayat asma ikut menanggung dampak asapnya.

Dede Septa Jaya, reporter TV1, melaporkan dari lokasi kebakaran pada malam itu. Api di dekat tempatnya berdiri bergerak mengarah ke jalan protokol, meski jaraknya masih jauh. Petugas masih sibuk menjinakkan api di titik lain, sehingga ia tidak dapat merapat ke sumber api.

Ratusan Titik Panas di Kota

Titik panas terus terpantau di sejumlah kawasan Kalimantan Tengah, dengan ratusan titik berada di Palangka Raya. Hampir 24 jam sehari, semua petugas, termasuk aparatur sipil negara (ASN), dikabarkan berjibaku mematikan api serta mengguyur lahan supaya kabut asap menipis.

Pada 17 Oktober 2026, pemantauan di Pulau Kalimantan masih menemukan titik api berjumlah di atas 3.000:

  • Kalimantan Tengah: 2.626 titik
  • Kalimantan Barat: 499 titik
  • Kalimantan Timur: 354 titik
  • Kalimantan Selatan: 215 titik
  • Kalimantan Utara: dua titik

Secara terpisah, dalam laporan itu disebutkan karhutla Kalimantan Barat termasuk yang paling terdampak. Luas lahan yang terbakar di Indonesia tahun ini tercatat lebih dari 800.000 hektare, dan bencana diperkirakan berlangsung hingga November.

Hujan Singkat, Gambut Terus Membara

Hujan memang turun di Palangka Raya. Namun intensitasnya rendah dan durasinya pendek, sehingga air tidak menjangkau lapisan gambut yang terbakar. Kedalaman gambut itu 1 hingga 3 meter di beberapa permukiman. Di sejumlah lahan kosong, tim menemukan kedalaman hingga 5 meter.

Kondisi tersebut menyulitkan pemadaman total. Pemerintah, kata Dede, menambah jumlah ASN untuk memperkuat petugas dan relawan di lapangan agar upaya pemadaman tidak bergantung pada hujan. Semua itu dilakukan di tengah keterbatasan anggaran.

Di sisi penegakan hukum, polisi masih menyelidiki pembakaran lahan. Berdasarkan informasi dari Kapolres setempat, baru tiga tersangka yang ditahan.

Anak dan Warga Terdampak

Catatan hari ini menunjukkan sedikitnya 121 penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Palangka Raya. Salah satunya Mesya Mikaila, 13 tahun, warga Jalan Bukit Keminting 3. Mesya dan ibunya sama-sama mengalami gejala ISPA, sekalipun gambut yang menyala itu berjarak kira-kira 10 rumah saja dari tempat tinggal mereka.

Sudah hampir tiga bulan Mesya belajar dari rumah. Ia punya riwayat asma, sehingga napasnya kian sesak. Pengobatan yang ia jalani berupa rawat jalan, disertai konsumsi vitamin secara rutin dan obat yang diminum sesuai anjuran dokter. Tayangan itu memperlihatkan bahwa api di permukaan memang dapat dimatikan, tetapi bara yang tersisa di dalam gambut terus mengeluarkan asap.

Salah satu narasumber dalam tayangan menggambarkan kondisi anak itu. "Setiap hampir setiap malam dia tuh selalu ngeluh sesak." Harapan Mesya sederhana: bernapas bebas, bermain di luar rumah, dan kembali bersekolah.

Warga lain mengaku cemas dan sulit tidur karena api mendekati permukiman. Mereka berharap pemerintah segera menanggulangi karhutla.

Bandara dan Satwa Ikut Terganggu

Kabut asap juga mengganggu Bandara Tjilik Riwut. Menurut Dede, kemarin belum ada aktivitas keberangkatan maupun kedatangan, dan jarak pandang hari ini masih sangat minim. Ia menyebut kemungkinan penerbangan sangat kecil. Hanya Garuda Indonesia yang disebut beroperasi di sana, dan dalam beberapa pekan terakhir banyak penerbangan dibatalkan.

Pusat Penyelamatan Satwa Yari di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kini memelihara 90 ekor orangutan, termasuk 49 ekor tambahan yang dievakuasi sejak Agustus. Hutan tempat tinggal satwa dilindungi itu terbakar akibat kemarau panjang El Nino, sehingga mereka masuk ke kebun sawit warga. Petugas menemukan orangutan bernama Sampurna dalam kondisi lemah dan sulit bernapas pada akhir Agustus, lalu satwa itu mati tidak sampai 12 jam setelahnya. Tim patroli kini bersiaga menghadapi kemungkinan lonjakan evakuasi.