Pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Alexander Yahya Datuk, memandang kondisi ekonomi yang stabil sebagai bekal terpenting Indonesia di tengah dunia yang serba tidak pasti. Pandangan itu ia sampaikan dalam perbincangan dengan Pro3 RRI di Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.
Menurut Alex, laju pertumbuhan lima persen wajib dipertahankan selama tekanan dari luar negeri belum mereda. Angka sekitar itu bahkan ia anggap layak dihargai. Saat geopolitik dunia bergolak, kemampuan bertahan di level tersebut ia baca sebagai tanda ketahanan ekonomi nasional.
Konflik Teluk dan Dua Tahun yang Berat
Bagi kalangan pengusaha, dua tahun belakangan adalah masa yang berat. Alex menyebut konflik datang silih berganti, sementara guncangan ekonomi melanda banyak wilayah. Semua itu menjadi tantangan besar bagi dunia usaha.
Geopolitik ikut memperkeruh keadaan. Alex menunjuk kawasan Teluk sebagai contoh. Konflik di sana mengusik aliran energi dunia, lalu ikut membebani ekonomi beberapa negara.
Dalam penilaiannya, Indonesia masih sanggup bertahan. Imbas gejolak dari luar berhasil diredam sehingga tidak merembes jauh ke perekonomian dalam negeri. Pelaku usaha, lanjut Alex, memerlukan suasana yang stabil sekaligus ruang untuk tumbuh supaya roda ekonomi bisa terus berputar dalam jangka panjang.
Kata Alexander Yahya Pengurus KADIN Indonesia “Ekonomi kita relatif stabil, itu yang saya apresiasi karena dalam bisnis itu ada peluang dan ruang untuk tumbuh. Tapi juga sangat penting itu stabilitas, jadi kemampuan menjaga stabilitas ekonomi itu hal yang perlu kita apresiasi,”.
Target Delapan Persen dan Tekanan Global
Sasaran yang dibidik pemerintah jauh lebih tinggi, yakni delapan persen, untuk mendongkrak kinerja ekonomi nasional. Bagi pelaku usaha, kata Alex, angka itu kabar gembira. Hanya saja, jalan menuju ke sana tidak bisa mengabaikan tekanan global yang ikut menentukan arah investasi dan aktivitas ekonomi.
Dengan kondisi dunia seperti sekarang, pertumbuhan yang melampaui lima persen pun menurutnya sudah tergolong kuat.
Teknologi Geser Kebutuhan Tenaga Kerja
Persoalan ketenagakerjaan juga menjadi perhatian Alex. Ia menegaskan isu ini bukan khas Indonesia, melainkan gejala yang muncul di banyak negara dengan pemicu beragam. Kecerdasan buatan (AI), Otomatisasi, dan robotika membuat banyak pekerjaan yang dulu dipegang manusia kini mulai beralih ke sistem otomatis.
Karena itu, peluang usaha perlu dibuka lebih lebar. Saat pintu pekerjaan formal menyempit, menurut Alex, kewirausahaan bisa menjadi jalan keluar. Ia menilai peran pemerintah dibutuhkan agar usaha bisa berkembang, terutama lewat akses pembiayaan serta pasar yang diperluas.
Investor Asing Masih Melirik
Ketertarikan pemodal asing pada Indonesia belum surut. Kesimpulan itu Alex tarik dari pertemuannya dengan sejumlah delegasi dagang dan calon investor. Ia menyebut tiga hal yang membuat Indonesia dilirik:
- kekayaan sumber daya alam
- pasar domestik yang besar
- letak geografis yang strategis
Ke depan, Alex ingin stabilitas itu bertahan sehingga pelaku usaha punya pegangan pasti untuk mengembangkan bisnisnya. Ia melihat peluang investasi sebagai salah satu penopang agar laju pertumbuhan tetap terjaga saat situasi dunia terus berubah.