Ekonomi

Master Gema Nilai IHSG Turun 2,5% Bukan Krisis

Master Gema Astronacci
Master Gema Astronacci

IHSG anjlok ke 5.936 dan media sosial riuh. Master Gema dari Astronacci menilai tekanan itu bukan awal kejatuhan besar, tetapi ia mengingatkan satu hal soal area 5.770.

Master Gema dari Astronacci menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 2,5% pada Senin (12/10/2026) belum menandakan kejatuhan besar. Ia memperkirakan peluang crash sebesar April–Mei hanya 15–20%.

Pernyataan itu disampaikan dalam video yang diunggah kanal Astronacci di YouTube pada 12 Oktober 2026. Menurut Gema, sisa kemungkinannya adalah penurunan berhenti lalu indeks kembali naik.

Indeks memang tertekan. Liputan6 melaporkan IHSG turun 2,59% ke level 5.936 dan meninggalkan posisi 6.000, dengan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) disebut sebagai salah satu pemicunya.

Isu MSCI dan Saham Konglomerasi

Gema menyebut tekanan kali ini tidak berkaitan dengan fundamental. Menurut dia, bursa global dan regional sedang baik, harga minyak tenang, dan rupiah stabil tanpa gejolak ekstrem.

Ia menunjuk kekhawatiran sanksi MSCI yang menghantam saham-saham konglomerasi, termasuk DSSA dan RLCO. Saham besar seperti Astra, Telkom, BRI, Mandiri, dan BCA, katanya, relatif tidak terpengaruh.

Selain itu, Gema menyinggung kabar bahwa pembekuan MSCI atas saham Indonesia akan berlanjut hingga Mei 2027. Ia menduga investor memindahkan dana ke obligasi karena imbal hasil surat utang Amerika Serikat sedang tinggi.

Ihwal pengumuman, Liputan6 mencatat MSCI akan menyampaikan hasil tinjauan indeksnya pada November 2026. Lembaga itu diperkirakan masih membekukan saham Indonesia, termasuk faktor inklusi asing dan jumlah saham.

Area Support dan Target Harga

Dari sisi teknikal, Gema memetakan area dukungan kuat di kisaran 5.770 hingga 5.849. Ia menyebut peluang indeks naik dari sana sebesar 75%, sedangkan peluang turun lebih dalam 25%.

Sebelumnya, indeks sempat menyentuh titik terendah 5.973 pada akhir September, lalu naik sekitar 4%. Gema mengklaim sudah memperkirakan level itu kepada anggota komunitas berbayarnya pada 8 Oktober.

Ia juga menandai 13 atau 15 Oktober sebagai waktu yang berpotensi mendatangkan pembeli. Ia mengaitkannya dengan rilis laporan keuangan sejumlah emiten, termasuk BCA, pada 15 Oktober.

Target kenaikan yang ia pasang berurutan mulai 6.228 dan 6.586, lalu berujung 8.873. Gema meyakini level terakhir akan tercapai, meski waktunya belum pasti.

Gema juga mengkritik narasi panik di media sosial yang menurutnya muncul setiap kali indeks merah. Ia menduga sebagian akun digerakkan secara sistematis, tetapi dugaan itu belum disertai bukti dalam video.

Soal volatilitas, ia meminta publik tidak terbawa ketakutan. Menurut dia, "jangan sampai overfear karena akan merugikan Anda," kata Gema dalam videonya, seraya menegaskan pasar kini bergerak sangat liar sehingga 2,5% tidak sebesar dulu.

Ia menutup dengan seruan bersikap profesional dan tidak mendramatisasi pasar. "Peradaban Indonesia adalah peradaban yang harusnya maju," kata Gema menutup videonya.

*