Pemerintah berencana membentuk BUMN Tekstil untuk menyatukan sejumlah perusahaan, termasuk Sritex. Namun langkah itu dinilai harus hati-hati agar tidak sekadar mengambil alih yang kolaps.
LintasSuara.id 14/10/2026 - Pemerintah tengah menyiapkan BUMN Tekstil yang disiapkan untuk menampung sejumlah perusahaan tekstil, termasuk PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, menyebut wadah baru itu akan mengonsolidasikan perusahaan tekstil di dalam negeri.
Rencana tersebut dinilai perlu dijalankan dengan hati-hati. Akuisisi harus menjadi bagian dari restrukturisasi industri, bukan sekadar mengambil alih perusahaan yang sudah kolaps.
Konsolidasi, bukan sekadar penyelamatan
Gagasan ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap perusahaan memiliki kekuatan yang bisa disinergikan. Sarmuji menilai penggabungan itu dapat memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
Sarmuji sendiri baru dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026 dalam Kabinet Merah Putih. Dalam dialog bersama CNBC Indonesia, ia menegaskan komitmen mendorong peran sektor industri dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Industri padat karya di persimpangan
Saat ini kontribusi sektor perindustrian baru mencapai 19 persen terhadap produk domestik bruto. Angka itu, kata Sarmuji, masih perlu didorong lebih tinggi agar industri makin berperan dalam ekonomi nasional.
Kemenperin menyoroti daya saing, produktivitas, dan kedalaman industri sebagai pekerjaan rumah. Untuk sektor TPT yang padat karya, penguatan dilakukan lewat mesin terbaru dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia industri.
Pada akhirnya, konsolidasi dinilai berhasil bila mampu memperbaiki industri, bukan sekadar memindahkan kepemilikan. Pertanyaan itu kini menunggu jawaban dari langkah konkret pemerintah.