Lintassuara.id - Lewat sambungan telepon pada Kamis, 15 Oktober 2026, Presiden Lebanon Joseph Aoun meminta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membujuk Israel berhenti menggempur kota-kota di Lebanon selatan. Anadolu melaporkan, keduanya membahas perkembangan terbaru di Lebanon dan kawasan sekitarnya.
Permintaan itu datang saat serangan belum juga reda, padahal Beirut dan Tel Aviv meneken kesepakatan kerangka kerja pada Juni dengan Amerika Serikat sebagai mediator. Dokumen tersebut, di antara ketentuan lain, mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon dan pelucutan senjata Hizbullah. Sejak awal Maret, serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan lebih dari 4.300 orang. Lebih dari satu juta orang lainnya terpaksa mengungsi.
Petani dan operasi pembersihan lahan
Aoun meminta Washington mendorong Israel mematuhi isi kesepakatan. Ia menyoroti operasi pembersihan lahan yang, menurutnya, harus dihentikan, sekaligus meminta para petani diberi akses ke ladang mereka. Petani, tegas Aoun, tidak semestinya menjadi sasaran serangan.
Langkah dari pihak Lebanon
Kepada Rubio, Aoun juga memaparkan apa yang sudah dikerjakan negaranya. Tentara dan pasukan keamanan disebut telah bertugas menjalankan keputusan di bidang keamanan. Mereka mencegah aksi unjuk kekuatan bersenjata, menyita senjata dan amunisi, serta memberantas penyelundupan.
Sementara itu, kasus-kasus yang dilimpahkan ke otoritas peradilan kini sedang ditindaklanjuti seluruhnya. Aoun menyatakan, siapa pun yang bertanggung jawab atas pelanggaran tidak akan mendapat toleransi.
Bagi Beirut, kesepakatan itu mestinya sudah menghentikan serangan dan operasi yang menyasar warga sipil. Karena itu, pemerintah Lebanon kembali meminta Amerika Serikat mendorong Israel memenuhi ketentuan yang telah disepakati.