Pesan singkat Putin untuk Prabowo di Vladivostok memicu tafsir tentang ancaman pada persatuan umat. Jawaban tersirat Presiden datang dari sebuah pesantren di Kediri.
Lintassuara.id 17/10/2026 - Presiden Rusia Vladimir Putin menitipkan satu pesan kepada Presiden RI Prabowo Subianto ketika ia berada di Vladivostok: umat Islam di negeri ini harus dijaga. Bagi sebagian pihak, pesan itu tidak berhenti pada basa-basi diplomatik, tetapi dibaca sebagai tanda operasi geopolitik yang menyasar persatuan Indonesia.
Bagi pembaca pesan tersebut, sikap seorang pemimpin negara besar yang merasa perlu mengingatkan Prabowo tentang nasib mayoritas rakyatnya seharusnya memancing perenungan mendalam. Wajah keislaman menjadi cara dunia menilai Indonesia, sehingga renggangnya ikatan umat di dalam negeri turut terbaca oleh pihak luar.
Jawaban dari Lirboyo
Prabowo tidak merespons lewat konferensi pers. Jawaban tersiratnya muncul di Pesantren Lirboyo, Kediri. Ribuan santri dan kiai yang hadir mendengar ia menegaskan bahwa Indonesia berdiri di sisi kemerdekaan Palestina.
Sikap itu dikaitkan dengan pengalaman bangsa yang berabad-abad diisap penjajah. Indonesia, dengan demikian, menolak imperialisme dalam bentuk apa pun.
Bukan dinamika sosial yang wajar, begitu penilaian terhadap konflik di tubuh umat, dari lunturnya karakter pesantren sampai bentrokan antarkelompok. Menurut tulisan sumber, ada indikasi keterlibatan proksi asing yang digambarkan sebagai musuh dalam selimut. Serangan sporadis ke basis Islam tradisional, termasuk pesantren dan Nahdlatul Ulama, disebut menunjukkan desain yang terstruktur. Sasarannya jelas, yakni menjauhkan akar rumput dari elite agamanya dan sekaligus menebar rasa curiga secara massal. Dampaknya, kekuatan sosial terbesar penopang keutuhan NKRI selama ini berangsur terkikis.
Dari Snouck Hurgronje ke imperialisme epistemik
Sejarah, menurut sumber, punya kebiasaan berulang dengan jubah yang berganti. Pada akhir abad ke-19, Belanda mengutus Snouck Hurgronje dengan misi mencerai-beraikan umat Islam dari kekuatan politiknya melalui kendali birokrasi. Sekarang infiltrasi hadir secara lebih halus, namun mematikan.
Para analis menamai gejala ini imperialisme epistemik. Pada masanya, Snouck mengandalkan administrasi teritorial, sementara agen masa kini bergerak di lanskap global-liberal lewat struktur pengetahuan, lembaga donor, dan pembingkaian media. Ibadah tidak dilarang. Yang digeser adalah makna "Islam" itu sendiri, supaya selaras dengan selera sekularisme Barat.
Dalam gambaran ini, pesantren dan lembaga pendidikan Islam tradisional ditekan agar mengikuti ukuran "modernitas" dari luar. Corak pendidikan Nusantara yang memadukan ilmu akal dan kecerdasan kalbu justru dicap kolot serta berbahaya. Penjajahan model baru ini tidak menumpahkan darah. Ia menaklukkan makna.
Perang pemikiran di ruang digital
Perang pemikiran, atau gazwul fikri, lahir dari zaman ini. Kontrol sosial di ruang digital yang melemah membuat wacana pemecah belah mudah menyusup. Media sosial beberapa kali dipakai untuk mendelegitimasi Pesantren Lirboyo dan para kiai sepuh, dengan rancangan merobohkan otoritas tradisional agar umat kehilangan panutan.
Karena itu, tanggapan dari Nusantara dinilai perlu setegas pidato di Lirboyo. Pesantren diharapkan menempuh transformasi kultural dan intelektual, menyusun narasi tanding (kontra-hegemoni), dan tetap memegang tradisi.
Peringatan dari Vladivostok disebut sebagai lonceng pembangun. Pilihan yang tersisa hanya dua: membiarkan rumah peradaban runtuh karena ilusi wacana asing, atau merapatkan barisan untuk membela warisan para muassis bangsa.