lintassuara.id – Mahasiswa Kabupaten Tangerang seharusnya berdiri di barisan depan menjaga nalar publik. Mereka lahir untuk menggerakkan perubahan, menyeimbangkan realitas sosial, dan menjadi penuntun arah berpikir masyarakat. Tapi hari ini, idealisme itu mulai luntur. Semangat literasi melemah, tradisi diskusi meredup, dan gairah intelektual seolah kehilangan denyutnya.
Di banyak kampus, ruang-ruang kajian yang dulu ramai kini sunyi. Mahasiswa lebih sibuk mengurus acara seremonial daripada menyiapkan bahan diskusi. Forum yang seharusnya memantik gagasan berubah jadi ajang formalitas. Budaya membaca dan menulis, yang dulu jadi napas gerakan mahasiswa, tergeser oleh budaya instan di media sosial. Banyak yang rajin berkomentar, tapi malas membaca. Rajin bicara soal perubahan, tapi bingung memahami akar masalah.
Kita hidup di tengah banjir informasi, tapi banyak mahasiswa justru tenggelam di dalamnya. Mereka cepat menilai, tapi malas menelusuri fakta. Mereka lantang bicara soal keadilan, tapi jarang menyentuh literatur yang membahasnya. Akibatnya, literasi kehilangan makna dan diskusi kehilangan ruh.
Kabupaten Tangerang terus tumbuh menjadi kota industri dan urban. Gedung menjulang, jalan lebar, pabrik berdiri di mana-mana. Tapi di balik kemajuan fisik itu, kesadaran intelektual justru menurun. Mahasiswa yang seharusnya menjaga nalar kritis malah ikut larut dalam kenyamanan. Banyak organisasi mahasiswa sibuk mengejar jabatan, bukan gagasan.
Tanpa literasi, mahasiswa buta membaca kenyataan. Tanpa diskusi, mereka kehilangan kemampuan menimbang kebenaran. Maka lahirlah generasi yang mudah tersinggung tapi malas berpikir, gemar mengkritik tapi takut belajar. Mereka ramai di jalan, tapi sepi di ruang baca.
Kampus pun ikut berperan. Banyak perguruan tinggi di Kabupaten Tangerang membiarkan budaya berpikir mati pelan-pelan. Perpustakaan kosong, forum ilmiah jarang, dan dosen jarang menantang mahasiswa untuk menulis atau meneliti. Pendidikan tinggi berubah menjadi pabrik gelar — mencetak sarjana, bukan pemikir.
Kita tak butuh mahasiswa yang hanya pandai bicara. Kita butuh mahasiswa yang mau membaca, menulis, dan berani berpikir berbeda. Kampus harus menyalakan kembali ruang intelektual yang mati. Organisasi mahasiswa harus hidup lagi sebagai tempat belajar, bukan sekadar arena perebutan posisi. Pemimpin mahasiswa harus memberi contoh lewat karya, bukan hanya orasi.
Mahasiswa Kabupaten Tangerang punya potensi besar. Mereka hidup di wilayah yang strategis, dekat dengan denyut ekonomi dan politik nasional. Tapi potensi itu tak berarti apa-apa tanpa kesadaran berpikir. Gerakan mahasiswa tak bisa berdiri di atas slogan; ia tumbuh dari pengetahuan yang jujur dan nalar yang tajam.
Kini waktunya mahasiswa bangkit, bukan dengan teriakan kosong, tapi dengan gagasan yang lahir dari bacaan dan refleksi. Bangun kembali forum-forum kecil di kampus. Bahas isu daerah dengan serius. Tulis opini, baca buku, lawan malas berpikir.
Kebangkitan tak lahir dari keramaian panggung, tapi dari kesunyian ruang baca.
Perubahan tak datang dari spanduk, tapi dari pikiran yang terus bekerja.
Sebelum menuntut perubahan besar, ubah kebiasaan kecil:
buka buku, buka pikiran, dan buka ruang dialog.
Karena masa depan Kabupaten Tangerang tidak bergantung pada seberapa tinggi gedung berdiri,
tetapi pada seberapa tajam mahasiswa berpikir dan berani bersuara.
Penulis: Muhammad Agus Atoib









