Lintassuara.id – Dalam momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Tangerang, mahasiswa yang tergabung dalam Sentral Mahasiswa Tangerang (SEMATA) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang. (01/3/2026).
Melalui aksi bertajuk “Rakyat Menagih Bukti, Bukan Seremoni”, mahasiswa secara langsung mengevaluasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang.
Koordinator aksi, Holid, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menjadikan peringatan hari jadi kota sekadar seremoni dan perayaan simbolik. Ia mendorong pemerintah menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi atas berbagai persoalan riil yang masih membebani masyarakat.
“Jangan Jadikan HUT Sekadar Panggung Perayaan” ucapnya
Dalam orasinya, Holid secara langsung menyoroti persoalan penerangan jalan umum (PJU) yang mati berhari-hari bahkan berminggu-minggu tanpa perbaikan.
Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut membahayakan keselamatan warga dan membuka peluang terjadinya tindak kriminal.
“Kondisi ini rawan kecelakaan dan tindak kriminal. Pemerintah jangan menunggu viral baru bergerak,” tegasnya.
Holid menekankan bahwa pemerintah harus memprioritaskan penerangan jalan sebagai kebutuhan dasar, bukan sekadar fasilitas pelengkap. Ia menilai kota yang mengklaim diri sebagai kota layak huni harus menjamin rasa aman bagi warganya.
“Kalau ingin bicara kota maju dan modern, pastikan dulu kebutuhan dasar seperti penerangan jalan terpenuhi. Jangan sampai masyarakat merasa tidak aman karena kelalaian pengawasan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa usia 33 tahun Kota Tangerang seharusnya mencerminkan kematangan tata kelola pemerintahan. Namun, pemerintah masih membiarkan persoalan mendasar terus berulang, seperti jalan rusak, pembakaran liar, dan kabel semrawut.
“Kami hadir untuk menagih komitmen, bukan janji,” tegasnya.
Mahasiswa menilai satu tahun kepemimpinan wali kota saat ini harus diisi dengan terobosan konkret dan kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kepemimpinan harus menghadirkan perubahan nyata. Rakyat butuh bukti kerja, bukan panggung perayaan tanpa solusi,” lanjut Holid.
Melalui aksi tersebut, SEMATA mendesak Pemerintah Kota Tangerang melakukan evaluasi terbuka terhadap kinerja dinas-dinas teknis, khususnya di bidang infrastruktur dan lingkungan hidup. Mahasiswa juga menuntut transparansi anggaran serta penetapan target penyelesaian masalah yang terukur dan memiliki tenggat waktu yang jelas.
Adapun tiga isu yang disoroti SEMATA yaitu :
- Kerusakan Jalan dan Infrastruktur SEMATA menilai masih banyak ruas jalan berlubang dan infrastruktur rusak yang membahayakan keselamatan warga. Kondisi ini disebut mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan pembangunan.
- Pembakaran Liar dan Krisis Lingkungan Aksi pembakaran sampah terbuka dinilai mencemari udara dan mengancam kesehatan masyarakat. Mahasiswa menilai pengelolaan sampah belum berjalan sistematis dan tegas.
- Kabel Provider Semrawut Kabel utilitas yang menjuntai tanpa penataan dianggap merusak estetika kota dan berpotensi membahayakan pengguna jalan. Mereka mendesak penegakan regulasi terhadap perusahaan penyedia layanan.
SEMATA akan terus mengawal isu-isu tersebut hingga ada langkah konkret dari pemerintah daerah.
“Jika tidak ada respons dan perubahan nyata, kami siap kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar,” tutup Holid.
(Kar)









